Kebutuhan Dollar Amerika yang begitu tinggi untuk mengimpor barang-barang kebutuhan sehari-hari kita termasuk kebutuhan pokok pangan, membuat harga barang-barang yang diimpor secara umum menjadi lebih mahal. Kalau kenaikan ini terjadi pada barang-barang kebutuhan sekunder, masih bisa dihindari untuk sementara tidak membelinya.
Melayani jual beli emas dan perak (satuan Dinar/Dirham) Dinar Emas seberat 4.25 gram dengan kadar 22 Karat, dan Dirham Perak yaitu perak murni seberat 2.975 gram. Bersertifikat Logam Mulia – PT. Aneka Tambang TBK Masing-masing koin disertai sertifikat yang diakreditasi oleh KAN (Komite Akreditasi Nasional) dan LBMA (London Bullion Market Association). Cocok untuk Investasi Jangka Panjang
Halaman
Sabtu, 14 September 2013
Agar Kurs Tidak Membuat Kita Kurus…
Minggu, 23 Juni 2013
Harga Emas Jatuh, Masihkah Berfungsi Sebagai Proteksi Nilai…?
- Published on Friday, 21 June 2013 07:24
- Oleh : Muhaimin Iqbal
Untuk kedua kalinya dalam beberapa bulan terakhir harga emas jatuh, pagi ini harga emas di pasar internasional di kisaran US$ 1,283/ozt dan Dinar berada di kisaran Rp 1,800,000,-. Penyebabnya masih sama yaitu sebagaimana kenaikannya didorong oleh kebijakan Quantitative Easing (QE) the Fed, kejatuhannya juga disebabkan oleh (rencana) penghentian QE ini. Pertanyaannya adalah, masihkah emas atau Dinar efektif untuk instrumen proteksi nilai ?
Jumat, 14 Juni 2013
Harga Emas Turun, Bagaimana Daya Belinya ?
- Oleh : Muhaimin Iqbal
Sudah tiga bulan ini harga emas berada pada titik terendahnya sehingga sebagian investor mulai kehilangan kepercayaannya. Namun bagi Anda yang membeli emas untuk memproteksi hasil jerih payah Anda supaya tidak tergerus inflasi, Anda mestinya tidak perlu kawatir. Emas tetap membuktikan daya beli yang sangat kuat untuk kebutuhan manusia dalam jangka panjang. Berikut saya sajikan datanya untuk kebutuhan energi dan pangan.
Minggu, 24 Maret 2013
Mengelola Yang Cukup…
Ketika Thomas Malthus mengeluarkan teorinya (1798) bahwa populasi dunia tumbuh secara deret ukur (1,2,4, 8 dst…) sedangkan sumber daya kehidupan tumbuh secara deret hitung (1,2,3,4 dst…), saat itu penduduk dunia belum mencapai 1 Milyar. Gara-gara teori tersebut, timbul pemikiran yang ganjil dari Thomas Malthus ini – bahwa tidak ada gunanya mengentaskan kemiskinan – karena bila si miskin tambah makmur, dia akan menambah anak dan problem kekurangan sumber daya kehidupan akan semakin serius.
Langganan:
Postingan (Atom)